Indonesia Negara tercinta adalah sebuah Negara dimana bambu tumbuh dimana-mana, dimulai dari sabang di sebelah barat dan Merauke di sebelah timur.
Untuk itu tidaklah aneh bila bangsa Indonesia mengatakan bahwa bambu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa kita sehari-hari.
Pernah suatu saat seorang asing yang telah mengunjungi berbagai tempat dinegara kita ini berkata bahwa bangsa Indonesia itu merupakan bangsa yang aneh; karena mereka membangun rumah mereka dari bambu, dimulai dari lantai, dinding, atap, tiang, juga peralatan dapur dan kebutuhan sehari-hari semua dari bambu, bahkan makan pun mereka makan bambu muda, dimana Negara kita terkenal dengan rebung.
Bahkan didalam merebut, membela dan mempertahankan Negara dari tangan penjajah”bambu” tidak sedikit berperan andil (bambu runcing) dan malah sampai waktu meninggal pun bambu berperan penting (usung jenazah).
Hal lain yang menarik, bahwa Indonesia pun pandai membuat alat musik sendiri terbuat dari bambu (suling, calung, munsang, clempung, rengkong, angklung, hatong, dan lain sebagainya).
MASA LALU MUSIK BAMBU
Sejak kapan timbulnya musik yang di buat dari bambu di Indonesia, tidak dapat keterangan yang jelas. Beberapa ahli, seperti J. Kunst (Mr. J dan C.J A Kunst “Musical Exploration in the Indian Archipelago” dalam Asiatic Review, Oktober 1936, hal.814 dan Will G. Gilbert Muziek uit Oost-en West, Inleiding tot de Inchemsche Muziek van Nederlandsch Oost-en West India, (tidak bertahun) hal.9-10) berpendapat, bahwa beberapa alat musik bambu berasal dari masa sebelum adanya pengaruh Hindu. Menurut dugaan mereka, permulaan berkembangnya alat musik dari bambu di Indonesia sangat erat hubungannya dengan perpindahan penduduk dari daratan Asia yang kemudian menjadi nenek moyang suku-suku Melayu Polinesia, beberapa Melanium sebelum Masehi. Dari bukti-bukti yang dapat dikumpulkan, dengan terdapatnya alat musik dari bambu yang sama bentuknya di Asia Tenggara, dugaan tersebut dapat di terima. Sebagai contoh, alat musik bambu berdawai yang di Sulawesi Selatan disebut Gandrangbulo, di Priangan terkenal dengan sebutan Celempung, di Jawa Tengah disebut Gumbeng atau Gumbeng Jebah, di Bali dinamai Guntang.
Alat seperti itu, dengan berbagai variasinya antara lain terdapat di Siam Utara (Hugo A. Bertzik, Die Gaister der Gelben Blutter 1938, hal. 174); di Laos (A. Schaeffoer, Origine des Instrumente de Musque, 1938 hal. XII.
Di Kamboja dikenal dengan sebutan Dianglye (Curt Sachs), Die Musikinstrumente Indies und Indonesiens, 1915 hal. 97. Di beberapa tempat di Malaysia biasa disebut Gendang Batak (Hendry Balfour, Musical Instruments from Melay Peninsula, Antropology, part 11, 1954 hal. 17; Orang-orang Sakai menyebutnya Krob, orang semang menyebutnya Amang (M. Kelsinki, “Die Musik der Primitiv Stamme auf Malaka” Anthrops, XXV, 1930 hal. 591.
Demikin pula di berbagai daerah di Indonesia, dengan berbagai variasi dan bentuk dan penamaan terdapat alat musik dari bambu berdawai.Bahkan di Madagaskar, menurut Sachs, (Curt Sachs, Les Instrumente de Musique de Madagascar, 1938 hal. 51) alat seperti itu terdapat pula, dikenal dengan sebutan veliha, verdiha (na) atau marovany.
Dengan adanya persamaaan bentuk dari bambu sebagaimana dikemukakan di atas, yang dapat dikatakan salah satu ciri persamaan selera dari kebudayaan yang sama pendukungnya, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa perkembangannya musik bambu di Indonesia erat kaitannya dengan perpindahan nenek moyangnya dari daratan Asia. Perpindahan yang dimaksud mungkin sekali perpindahan gelombang pertama, yakni perpindahan suku Negri to Weda yang terjadi pada zaman Mesolitikum, bahkan tidak mustahil sebelumnya.
Sebagaimana dimaklumi sebelum adanya perpindahan suku bangsa Palaeo Mongolid di Nusantara sudah ada suku-suku bangsa yang menetap yang juga berasal dari daratan Asian yang kini sisa-sisanya antara lain adalah pendududk asli Irian (M. Amir Sutarga, “Tjiri-tjiri Antopologi Fisik dari penduduk pribumi” dalam buku : Penduduk Irian Barat, dbawah redaksi Koentjaraningrat dan Harsja W. Bachtiar, 1963, hal. 22-23). Penduduk Irian ternyata memiliki berbagai alat musik dari bambu, antara lain yang bentuknya seperti di kenal di Pasundan dengan sebuah Kerinding, di Jawa Tengah dan di Jawa Timur disebut Rindhing atau Genggong, dan Bali disebut Ginggung.
Alat seperti ini dapat ditemui di berbagai tempat di Irian, seperti di sekitar Jambi, Tarung Garem Awembiak, Den Dema, di sekitar Gunung Jaya Wijaya dan di Hulu sungai Apauwar. Periksalah lebih lanjut : L.M. d’Alberts, New Guena, jilid I, hal. 359; W.N. Beaver, A description of the Ciraca District, western Papua, jilid III, 1914 hal. 407, R. Parkinson, Im Bismarck Arcchipel, Erlehnisse und Beobachtungen auf der Insel Neu Bommen, 1887 hal. 122; Curt Sachs, Geist und Werden der Musikinstrumente, 1929, jilid III, gambar No.59; G.A.J van der Sande, Uitkomsten der Nederlandsche Niew Guenia Expeditie onder leiding van Prof. A. Wichman, jilid III; ch. Le Roux, “Expeditie naar het Nassaugebergie in Cental Noord Nieuw guinea”, TBG LXVI, hal. 447-513, 1926; Dr. J. Kunst, A Sturly on Papuan Music, peta lampiran “Distribution of Musical Instruments in New Guinea and the Adjacent Islands, 1931.
sumber: http://musikangklung.com/
sumber: http://musikangklung.com/
No comments:
Post a Comment